Update
Todays Date
20 November 2017

Berubahnya Pola Perdagangan Daging dan Peternakan Sapi.

Pusat Kajian Pertanian Pangan Dan Kebijakan (PATAKA) bekerjasama dengan Direktorat Kajian Strategis Dan Kebijakan Pertanian Institut Pertanian Bogor melaksanakan program bincang-bincang agribisnis dengan tema “Menata Pasar Daging Yang Tersegmentasi” di Jakarta, Kamis (2/11).

Acara yang dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang bisnis ini dengan narasumber: Asnawi, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia. Sudaryatmo, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Prof. Dodik R Nurrochmat, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian Institut Pertanian Bogor (KSKP IPB). Ir. Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian. Prof. Muladno, Dosen IPB dan Gatra Vaganza, Manejer Pemasaran Pasar Jaya.

Melihat kondisi tata kelola perdagangan daging dan industri peternakan Indonesia saat ini sudah mengalami perubahan. Hal ini disampaikan oleh Yeka Hendra Fatika, Ketua PATAKA, menurutnya kebijakan impor daging kerbau asal India membawa dampak yang cukup serius terhadap perubahan tata kelola perdagangan daging dan industri peternakan sapi Indonesia.

Asnawi. Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia. Saat pengujian berat daging sapi beku dengan daging Segar.

Asnawi. Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia. Saat pengujian berat daging sapi beku dengan daging Segar.

“Fakta yang tergambar akibat impor daging kerbau India ini terjadinya praktek dagang yang tidak berkeadilan, terjadi penurunan volume pemotongan sapi di rumah potong hewan serta menurunnya skala usaha industri feedloter hingga 70%,” ungkapnya.

Menurutnya potensi hilangnya nilai tambah usaha feedloter ini sebesar Rp26,85 triliun per tahun di pedesaan maupun di perkotaan. Tidak hanya itu ada potensi pendapatan peternak yang hilang. “Potensi pendapatan peternak sapi potong skala kecil senilai Rp30 triliun per tahun akan hilang,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan impor daging kerbau India ini justru mendistorsi pasar karena munculnya praktek penjualan daging oplosan yang jelas merugikan konsumen. (EAS)

No Comment

Leave a Reply

*

*

Real Time Web Analytics